Artikel Ilmiah

Salah satu tagihan yang harus di penuhi oleh Peserta Diklat Pengembangan karir Mata Pelajaran Bahasa Inggris Rayon tahun 2012 adalah Artikel Ilmiah. Dan di bawah ini adalah beberapa contoh artikel ilmiah yang telah berhasil dibuat para peserta diklat :

 

 

 

 

1. Artikel Ilmiah Bu Ika Andriyani

2. Artikel Ilmiah Pak Broto

3. Artikel Ilmiah Pak Ari Prasmono

4. Artikel Ilmiah Bu Sri Nurhasanti

DERITA GURU RSBI

Oleh    : Sri Nurhasanti, S.Pd Guru SMP Negeri 2 Wonogiri

Banyak orang tua yang berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang berstatus RSBI sampai SBI dengan satu tujuan, yakni mendapatkan pendidikan yang bagus, jempol dan favorit. Mereka berpendapat bahwa, jika anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang baik, pastilah nanti mereka akan menjadi orang yang berhasil atau sukses. Benarkah?

Dibalik status RSBI atau SBI, sebetulnya banyak tersimpan misteri atau pertanyaan yang orang luar mungkin tidak akan pernah tahu. Diantaranya adalah banyak guru yang merasa terbebani dengan status sekolah yang begitu tinggi. Mereka yang semula merasakan begitu nyaman dengan sekolah yang hanya berstatus sekolah potensial, kemudian berkembang menjadi sekolah dengan status SSN, meningkat lagi menjadi RSBI, maka semakin terasalah beban yang begitu berat dan membuat mereka (Guru-guru yang sudah berusia di atas 50 tahun) memiliki tanggung jawab yang lebih berat daripada para guru muda yang masih enerjik, fresh from the oven Bahasa Inggrisnya.

Para guru manula (sebutan guru 50 tahun ke atas) menjadi sangat menderita, ketika mereka harus mulai belajar Bahasa Inggris, mengenal piranti-piranti berteknologi canggih mulai dari laptop, LCD, sampai internet. Mereka menjadi semakin menderita ketika sudah dipertanyakan status pendidikan yang belum S1, sudah tersertifikasi tetapi masih belum mencukupi jumlah beban mengajar 24 jam. Alangkah semakin menderitanya mereka.

Lalu, salah siapakah ada sekolah yang berstatus RSBI/SBI? Apakah salah gurunya, Kepala sekolahnya, pemerintahnya atau salah daerahnya? Begitu banyak hal yang harus dikaji seandainya sekolah akan menyandang status RSBI/SBI. Sebagai seorang guru di sekolah yang sudah berstatus RSBI, saya sendiri merasa bangga dengan status itu. Akan tetapi di sisi yang lain  begitu banyak beban yang saya rasakan, diantaranya masih ada ketidaksiapan dari berbagai factor, salah satunya adalah kesiapan guru yang belum 100 % melangkah maju bersama menjunjung status tersebut, belum lagi tudingan dari masyarakat menegenai uang pungutan yang tinggi, terciptanya gap (jurang pemisah) antara siswa yang berasal dari keluarga miskin dan dari keluarga kaya, tudingan masyarakat lainnya yang mengatakan bahwa guru-guru RSBI sangat sejahtera dengan mendapatkan insentif tambahan setiap bulannya. Ach… semua itu semakin menjadikan beban dan penderitaan para guru di sekolah RSBI semakin berat.

Belum lagi masalah output siswa. Ketika Ujian Nasional telah berakhir, masyarakat akan menyorot secara tajam nilai anak-anak dari sekolah RSBI terlebih dahulu. Jika para siswanya mendapatkan nilai bagus, mereka dengan enaknya mengatakan “wajar sekolah RSBI”, akan tetapi jika ada anak yang mungkin tidak lulus atau bahkan peringkatnya jatuh, begitu banyak olok-olok yang tertuju kepada para guru, “masak sekolah RSBI kalah sama sekolah satu atap?” dan masih banyak lagi.

Jadi, bagaimanakah seharusnya para guru RSBI meski bersikap? Salah siapakah jika ada anak-anak yang nilainya sangat buruk atau bahkan tidak lulus? Kami jajaran para guru hanya ingin mengajar dengan tenang, bahagia dan menjadikan para siswa adalah kebanggaan sekolah, bukan karena ststus, tapi karena kesungguhan hati dan keikhlasan. Kami merasa bahwa status yang dibuat karena penilaian akreditasi atau karena pengajuan dan atau permohonan menjadikan terambilnya hakikat keikhlasan para guru yang dulu telah dijalani dengan wajar. Kami merasa bahwa berkembangnya era globalisasi menjadikan nuansa alami dan kewajaran semakin memudar, semuanya dipandang dari status. Semakin tinggi statusnya semakin tinggi tuntutannya dan tanpa disadari semakin beratlah penderitaan orang-orang di dalamnya.

Saya pribadi merasakan status yang kami sandang menyimpan resiko yang sangat besar, yakni, harus selalu meningkatkan diri, belajar tak pernah henti, dan yang pasti selalu aktualisasi diri. Membuat masyarakat memahami tujuan pemerintah menbuat status RSBI yang mulia, ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Semuanya harus dengan disertai pembuktian bahwa kami para guru mampu untuk maju, berwawasan global dan selalu mengikuti perkembangan IPTEK tidak GAPTEK dan selalu berusaha untuk mengikuti perkembangan jaman.

Harapan kami hanyalah, ketenangan dalam bekerja tanpa tekanan, sorotan atau bahkan tuduhan bahwa para guru memanfaatkan status RSBI untuk memperkaya diri sendiri. Biarlah apa yang sudah terjadi dijalani dengan usaha dan doa serta harapan agar diberikan kekuatan untuk mampu melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Hanya saja, bagi pemerintah agar betul-betul mempertimbangkan baik-buruknya membuat sebuah keputusan. Ternyata status yang disandang oleh suatu sekolah berdampak luar biasa, terhadap para guru, Kepala Sekolah, para murid, tenaga TU , masyarakat dan juga sarana prasarana. Janganlah masyarakat menilai hanya dari luar tetapi hendaknya juga selalu mampu untuk menghargai usaha yang telah dilakukan oleh selulruh jajaran demi menjaga sebuah status yang sudah tercetus.

5.  Artikel Ilmiah Pak Yadi

Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia

(OlehSuyadi, S.Pd. – Guru SMP Negeri 3 Sidoharjo)

 

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalahberkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yangterbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaranemosi dan motivasinya (perasaannya).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:“character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), Pendidikan klarakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan  di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah  sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian  peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka  tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan  pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian  yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati(Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral.  Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989)  mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur  moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni:  perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

6. Artikel Ilmiah Bu Retno Dwi Hartanti

SMK SEBUAH SOLUSI UNTUK CEPAT KERJA

Oleh Retno Dwi Hartanti

Guru SMP N 2 Jatipurno

Pengangguran merupakan masalah terbesar yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Hal ini bukan hanya terjadi pada masyarakat yang berpendidikan rendah, bahkan banyak lulusan perguruan tinggi mengalami masalah yang sama. Tingginya tingkat pengangguran dikalangan mereka terjadi karena sekarang ini banyak perusahaan yang enggan merekrut pegawai hanya berdasarkan qualifikasi pendidikan tetapi lebih kepada ketrampilan yang mereka miliki. Apalagi dengan pertimbangan gaji yang harus mereka keluarkan untuk merekrut sarjana akan lebih tinggi daripada yang tidak berstatus sarjana. Tidak mengherankan apabila sekarang ini perusahaan-perusahaan justru banyak merekrut tenaga-tenaga siap pakai dari lulusan sekolah kejuruan.

Melihat kecenderungan pasar kerja saat ini tidak mengherankan apabila untuk tahun ini sekolah-sekolah kejuruan setingkat SMU banyak diminati oleh calon peserta didik. Hal ini bisa dilihat dari pendaftar yang membludak untuk di sekolah-sekolah kejuruan di Wonogiri bahkan  pendaftaran di sekolah-sekolah tersebut terpaksa ditutup sebelum waktunya mengingat kuota yang telah terpenuhi. Kebanyakan para calon peserta didik berharap dapat segera bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah kejuruan dan tentunya hal ini akan membantu untuk menyelesaikan masalah pengangguran di Indonesia. Apalagi dengan waktu tempuh yang relative cepat hanya tiga tahun tentu akan sangat membantu masyarakat yang mempunyai keterbatasan dana untuk pendidikan anak-anaknya dengan jaminan pekerjaan yang lebih luas.

Sekolah kejuruan merupakan sekolah setingkat sekolah menengah yang menitik beratkan pada pendidikan ketrampilan-ketrampilan khusus yang dibutuhkan oleh dunia kerja saat ini. Sekolah kejuruan saat ini banyak menyiapkan peserta didik dalam penguasaan keahlian dalam berbagai bidang antara lain mesin, computer, administrasi kantor, akuntansi,manajemen,disain grafis,perhotelan, farmasi, keperawatan bahkan bidang kecantikan.

Namun demikian dengan luasnya kesempatan lulusan sekolah kejuruan untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat,banyak lembaga pendidikan yang tdak begitu jelas sekarang ini banyak bermunculan. Mereka mengambil peluang dengan minimnya pemahaman masyarakat tentang lembaga pendidikan yang kredibel untuk bisa menyiapkan lulusan yang benar-benar bisa diterima dunia kerja. Untuk menyiapkan tenaga yang trampil tentunya diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang sesuai dengan bidang yang dipilih,namun banyak lembaga pendidikan yang tidak  mempunyai fasilitas yang memadai bahkan ada yang tidak mempunyai lahan dan gedung sendiri.

Oleh karena banyaknya lembaga pendidikan yang tidak bertanggung jawab maka perlu kiranya edukasi terhadap masyarakat terutama calon peserta didik untuk memilih sekolah-sekolah yang berkompeten yang akan mengantarkan mereka ke dunia kerja yang diinginkan. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan tempat belajar yang memadai, fasilitas yang ditawarkan dan ada tidaknya kerjasama sekolah tersebut dengan perusahaan-perusahaan yang terkait.

PERLUNYA KERJASAMA SMK DENGAN DUNIA KERJA

Kerjasama sekolah-sekolah kejuruan dengan perusahaan-perusahaan sangat penting mengingat akan sangat membantu lulusan dari sekolah tersebut untuk disalurkan ke dunia kerja yang sesuai. Untuk jurusan mesin perusahaan-perusahaan besar seperti Astra bahkan telah member peluang dari lulusan SMK. Tidak mengherankan karena sekarang ini banyak SMK yang telah mampu untuk menyiapkan peserta didiknya untuk merakit kendaraan baik roda dua bahkan roda empat. Seperti dari pemberitaan diberbagai media di salah satu SMK di Surakarta yang telah mampu merakit mobil nasional, tentu hal ini akan member kepercayaan kepada mereka untuk dapat direkrut ke perusahaan-perusahaan otomotif besar di Indonesia.

Untuk bidang kesehatan juga banyak peluang untuk lulusan sekolah kejuruan,dimana sekarang ini banyak rumah sakit-rumah sakit yang didirikan sampai ke pelosok-pelosok kecamatan tentu membutuhkan tenaga-tenaga kesehatan yang siap pakai seperti perawat, dan farmasi. Biasanya mereka akan membuka lowongan untuk lulusan-lulusan sekolah perawat yang telah terjalin kerjasamanya.

Disamping lulusan-lulusan yang bisa diterima bekerja di perusahaan-perusahaan public, lullusan SMK bisa juga mandiri untuk berwirausaha. Di daerah-daerah pedesaan banyak lulusan disain grafis SMK yang mendirikan usaha percetakan sendiri seperti percatakan ulem dan lain-lain. Untuk jurusan computer banyak yang mendirikan rental ataupun servis computer sendiri.

Dengan banyaknya peluang lulusan sekolah kejuruan di dunia kerja tentu bisa dikatakan bahwa SMK merupakan salah satu pemecahan masalah pengangguran di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: